Jakarta, Margopost.Com – Melalui event seminar nasional yang akan diadakan pada tanggal 11 April 2018 mendatang, Asosiasi Profesi Teknologi Lingkungan Indonesia (APTLI) siap memaparkan solusi dari permasalahan darurat sampah di ibu kota bahkan skala nasional.
Untuk mengkomunikasikan seminar nasional ini secara masif APTLI menyelenggarakan konfresi pers di Hotel Swiss Belinn Kemayoran Jakarta pada hari Kamis tanggal 29 Maret 2018 pukul 13.00 WIB. Dalam konfrensi pers tersebut diawali kata sambutan Junifer Panjaitan sebagai ketua APTLI. Beliau menyampaikan konfrensi pers perlu dilakukan agar masyarakat mengetahui apa manfaat dari seminar yang akan diadakan tanggal 11 April 2018 mendatang.
Mananggapi pertanyaan wartawan tentang apa target utama APTLI dalam menyelenggarakan seminar nasional Darurat Sampah Dan Solusi ini, Junifer Panjaitan mengatakan “hampir di seluruh tanah air bisa dilihat sampah bisa menjadi sumber bencana tetapi kepedulian masyarakat masih belum terlihat hingga saat ini, oleh karena itu seminar ini akan mencoba memberi masukan baik kepada pemerintah, pihak swasta dan masyarakat luas agar lebih peduli. Jadi ini bisa disebut darurat setelah 72 tahun Indonesia merdeka..” katanya.
Kemudian disusul pertanyaan tentang upaya-upaya yang sudah dilakukan untuk mengurangi sampah yang menumpuk sangat dahsyat belakangan ini. Beliau menambahkan “salah satu yang utama adalah kesadaran masyarakat sendiri, baik swasta dan terlebih pemerintah. Apakah kita tahu, apakah kita sadar bahwa penumpukan sampah adalah bahaya. Peraturan sudah dibuat oleh pemeritah dan sudah cukup, tapi pelaksanaan di lapangan masih banyak masyarakat yang kurang peduli..” tandasnya.

Dalam acara konfrensi pers itu lebih lanjut pakar lingkungan Dr.Ir. Tarsoen Waryono, MSi , menjelaskan secara komprehensif aspek strategis upaya mewujudkan Indonesia yang bersih dari sampah menjadi Zero Waste ditahun 2020. Beliau mengatakan Asosiasi Profesi Teknologi Lingkungan Indonesia (APTLI) adalah sekelompok orang-orang yang mempunyai Profesi tertentu dalam hal keterkaitannya dengan Lingkungan, dimana untuk tahap awal APTLI pembahasan tentang sampah. Dan kedepannya akan mencoba membahas tentang moratorium reklamasi, banjir Jakarta, kemacetan di Jakarta, dan akan membahas masalah-masalah penting lainnya.
Untuk kegiatan pertama lokasi yang dibahas adalah DKI Jakarta karena keseharian tim APTLI berada di DKI Jakarta yang merasakan suka duka dinamika Kota Metropolitan Jakarta. APTLI berkepentingan untuk peduli terhadap masalah sampah yang telah mencapai skala darurat dan entah mengapa masih terlihat seperti dibiarkan dan seperti tidak ada gerakan untuk solusi yang targetnya adalah Zero Waste atau tidak ada sampah.
“Hingga saat ini penanganan sampah di Kota Jakarta dan daerah-daerah lain masih terlihat sangat lamban. Yang jelas sampah adalah sumber penyakit, karena disitu ada kecoa, ada tikus, ada lalat dan ada binatang kuman lainnya, itu yang menjadikan sumber penyakit. Meski sudah ada organisasi swadaya masyartakat dan dinas SKPD yang menangani tapi tetap saja sampah masih terlihat menumpuk dan belum ada hasil yang signifikan.” katanya.
”Saya mengatakan DKI Jakarta memiliki jalan yang besar dan panjang itu berkat Ali Sadikin, Jakarta bebas becak Hijo Royo royo berkico bekas tugas Sutioyoso dan tantangan Gubernur sekarang bagaimana..? mampu gak untuk berani menangani masalah sampah yang sangat serius ini..?” jelas Tarsoen penerima kalpataru itu. “Dana untuk penanganan sampah juga sangat besar sekali tapi hasil yang ada masih belum memadai..” tambahnya.
Ada dua cara untuk penanganan sampah ini, yang pertama adalah konvensional seperti TPA di Bantar Gebang dengan area 200 Hektar. Tetapi 5 tahun kedepan lokasi tersebut sudah tidak mampu menampung lagi. APTLI mengusulkan agar TPA sampah nantinya agar direlokasi ke Muara Gembong. Nantinya akan dikumpulkan sementara di Muara Angke kemudian diangkut menggunakan tronton ke Muara Gembong. Hal ini dapat mengurai kemacetan hingga 40% dan jumlah kendaraan yang digunakan akan berkurang 30% dan dampak bau sampahnya akan jauh berkurang karena Muara Gembong jauh dari pemukiman dan ditengah hutan.
Secara teknologi sudah ada teknologi ramah lingkungan dan efisien serta sudah dicoba oleh 441 kota-kota besar di dunia, dan salah satunya adalah Singapore. Seharusnya Indonesia lebih mampu dari negara-negara lain untuk mencapai target Zero Waste sampah.

Sampah di Jakarta kurang lebih 6,5 Juta ton per hari, baru bisa diangkut 40% sisanya menumpuk. Apa yang harus dilakukan? Maka dari itu APTLI merasa peduli dan memulai kegiatan seminar dan berdiskusi untuk penyelesaian permasalahan sampah agar target Zero Waste bisa dicapai. Jika barometer Jakarta sudah tercipta maka daerah-daerah Kota besar lainnya juga akan mengikuti. Sehingga melalui seminar yang berjudul Fenomena Sampah “Darurat Sampah Dan Solusi” ini akan menjawab solusi secara konvensional dan secara teknologi.
“Kalo kita bicara Metropolitan, sebenarnya DKI Jakarta ini belum memenuhi standar Kota Metropolitan. Standar ini karena cuma menghitung dari jumlah penduduk DKI Jakarta, jadi ini masih Metropolitan ala Indonesia. Tapi kalo ingin benar-benar memenuhi standar Kota Metropolitan maka semua hal yang menjadi standar harus dibenahi satu persatu, misalnya sampah harus kita benahi, banjir kita benahi, macet kita benahi.” katanya.
Dalam kesempatan itu Dr.Ir. Tarsoen Waryono, MSi menegaskan kembali, pentingnya seminar Fenomena Sampah Darurat Dan Solusi pada tanggal 11 April 2018 di Swiss Belinn Hotel Jakarta ini dihadiri karena sangat memberi manfaat bagi para Pemerintah Daerah dalam menangani permasalahan darurat sampah secara konvensional dan secara teknologi. Dan juga bagi masyarakat luas untuk menumbuhkan kesadaran akan bahaya penumpukan sampah.
Lebih lanjut Junifer Panjaitan selaku ketua APTLI juga mengajak para awak media di seluruh Indonesia untuk ikut serta aktif dalam menyuarakan pentingnya penanggulangan masalah darurat sampah ini kepada masyarakat luas dan kepada aparat pemerintah daerah untuk sesegera mungkin ikut peduli bersama-sama mengatasi hingga tuntas sehingga tercipta negara Indonesia yang bersih dari sampah. (berlin)





