MARGOPOST.COM | Bogor – Dalam menjalankan usaha peternakan sapi, peternak selalu menghadapi berbagai masalah termasuk serangan penyakit. Salah satu penyakit yang membutuhkan penanganan serius adalah belatungan (myasis). Kata myasis berasal dari bahasa Yunani, yaitu “myia” yang berarti lalat. Adapun defisini myasis adalah peradangan pada jaringan hewan atau manusia yang timbul akibat infestasi larva lalat.
Masyarakat Indonesia lebih mengenal penyakit ini dengan nama belatungan. kasus myasis banyak terjadi pada sapi dewasa, pedet, kambing, dan domba. Myasis pada sapi bisa ditemukan di berbagai lokasi seperti di mata, tanduk, leher, mulut/moncong sapi, telinga, vulva, ekor, pusar hewan yang baru lahir (umbilikus), kaki, dan teracak (telapak kaki).
“Kasus myasis sampai saat ini masih banyak menyerang sapi-sapi di Indonesia. Lalat penyebab myasis dapat berkembang baik dalam kondisi tropis dan kelembaban yang tinggi. Daerah yang memiliki banyak pepohonan, semak-semak, dan sungai merupakan daerah ideal untuk kelangsungan hidup lalat penyebab myasis,” ujar drh. E Nia Setiawati, MP., Widyaiswara BBPKH, Selasa (19/02/2019).
Beberapa faktor predisposisi serangan myasis antara lain musim hujan atau pancaroba, rendahnya tingkat higienitas dan sanitasi lingkungan, masuknya ternak sapi baru ke daerah endemis myasis, serta kurang pedulinya peternak terhadap perawatan luka. Adapun proses terjadinya kasus ini didahului oleh adanya luka yang dibiarkan terbuka. Luka dapat diakibatkan oleh gesekan tubuh sapi dengan kandang, tersayat benda tajam, pasca partus (beranak), terputusnya tali pusar/umbilikus atau terkena gigitan caplak.
Bau darah segar yang ada pada luka kemudian akan menarik perhatian lalat Chrysomya bezziana betina untuk bertelur pada luka tersebut. Telur ini mempunyai daya rekat yang kuat sehingga tidak mudah jatuh ke tanah oleh gerakan sapi. Dalam waktu 12-24 jam, telur lalat akan menetas dan tumbuh menjadi larva, kemudian bergerak masuk ke jaringan.
Infests larva myasis tidak menimbulkan gejala klinis yang spesifik dan sangat bervariasi tergantung pada lokasi luka . Sapi yang terserang myasis akan merasa tidak nyaman, napsu makannya menuern, lemah dan demamsehingga mengalami penurunan bobot badan dan produksi susu, kerusakan jaringan, anemia.

Pada prinsipnya, myasis tidak akan muncul jika peternak melakukan penanganan secara dini pada luka yang dialami sapi. Namun apabila luka tidak diobati dalam waktu 1-2 minggu maka selain terjadi myasis, juga akan terjadi infeksi sekunder bakteri sehingga bisa muncul kematian. Untuk pengobatan maenyeluruh dapat dibaerikan obat kutu misalnya Kututox sebagao obat tabor atau obat injaeksi seperti Ivomex , Wormectin dengan cara disuntikkan dibawah kulit(Subcutan). Sebelum diobati, bersihkan luka terlebih dahulu menggunakan air hangat atau larutan infus (NaCl 0,9%).
Untuk menangani sapi yang sudah terlanjur myasis, peternak dapat melakukan beberapa tindakan sebagai berikut; Keluarkan larva/ belatungyang ada dipermukaan, Semprotkan luka myasis dengan menggunakan iodium, Jika luka sudah bernanah , berikan antibiotik dan Vitamin.
Untuk mengendalikan keberadaan lalat di kandang hendaknya peternak membersihkan kotoran sapi setiap hari dan mengumpulkannya pada tempat penampungan yang terpisah dan tertutup agar tidak kehujanan. Kotoran yang telah terkumpul bisa didiamkan (dikeringkan,red) selama maksimal 1 minggu untuk dikemudian dikarungkan.
“Semoga tulisan ini dapat bermamfaat bagi para peternak dalam menagatasi penyakit belatungan ( Myasys), sehinggga ternak yang dipelihara akan terjamin kesehatannya yang pada akhirnya dipelihara keunetunhan maksimal dari usaha peternakan yang digelitinya,” tutup Nia.





