MARGOPOST.COM | Dalam hal mengadvokasi dan mencegah risiko kesehatan hewan dan lingkungan serta pengaruhnya pada aspek ekonomi, sosial, dan budaya yang disebabkan terjadinya wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) perlu dilakukan Peningkatan Pemahaman pengetahuan, keterampilan dan sikap bagi insan peternakan khususnya di wilayah terkena wabah dan umumnya seluruh wilayah dari Sabang sampai Meuroke, maka Melalui Pusat Pelatihan Pertanian Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian melaksanakan pelatihan pengendalian PMK secara daring.
Pada hari Kamis, tanggal 12 Mei 2022 dilakukan Pembukaan Pelatihan Pada Pembukaan Pelatihan Menteri Pertanianmenyampaikan dalam menanggapi PMK ini hal pertama yang harus dilakukan adalah perbaiki mindset kita dan isi dengan frame akademik intelektual untuk bisa mengadaptasi, memitigasi dan mengkolaborasi kekuatan yang ada. Dari sana akan hadir manajemen seperti apa yang harus dilakukan dalam menghadapi tantangan itu. Hal ini membuat kita semua terpanggil. Jadi pelatihan ini sebetulnya memanggil rasa nasionalisme, rasa empati untuk menjadi pejuang bangsa, mau jadi pahlawan bangsa, pelatihan ini bukan hanya pelatihan akademik, tetapi pelatihan ini menguji nasionalisme kita. Jika kita hanya biasa-biasa kita akan kalah oleh PMK. Manusia adalah makhluk yang luar biasa, kita bisa memanipulasi. Oleh karena itu ini virus harus bisa kita tundukan. Kita mesti tenang dan waspada untuk menangani PMK. Kita harus mengerahkan semua tenaga, kemampuan, pikiran dan energi kita untuk sama-sama menanangani PMK terutama di aceh dan jawa timur.
Transfer of knowledge terhadap bagaimana melakukan pendampingan dan mengintervensi yang terkena menjadi sangat penting terutama dalam manajemen pengelolaan. Pelatihan ini menjangkau kepentingan nasional, kepentingan bangsa, kepentingan rakyat, kepentingan peternak, oleh karena itu semua peserta pelatihan turun tangan setelah pelatihan ujar Yasin Limpo pada arahannya dalam pembukaan Pelatihan PPMK.
Dan Pernyataan Kepala BPPSDMP Dedy Nursyamsi menyatakan PMK ini disebabkan oleh virus yang penyebarannya sangat mudah dan cepat. PMK bukan merupakan penyakit zoonosis yang bisa menular kepada manusia, PMK hanya ada di hewan ruminansia. Pengendalian mobilitas dari hewan ternak ini menjadi kunci. Untuk menanggulangi PMK ada berbagai cara, teknik, pendekatan. Hal tersebut perlu diketahui oleh petugas kesehatan hewan khususnya di Aceh dan Jawa Timur yang sedang berjibaku menangani PMK. Dengan pertimbangan itu Kementerian Pertanian. Khususnya untuk dokter hewan, paramedik, petugas kesehatan, petugas teknis, penyuluh peternakan, penyuluh pertanian, dan penyuluh swadaya. Semuanya harus saling bekerjasama untuk menanggulangi PMK.
Pelatihan yang ditugaskan oleh menteri Pertanian mendapat sambutan yang luar biasa. Pada awalnya hanya ditujukan untuk dokter hewan tetapi ternyata antusias dari paramedik, medik veteriner, tenaga teknis keswan sangat besar. Pada awalnya pelatihan dilaksanakan untuk provinsi aceh dan jawa timur tetapi banyak kepala dinas dan tenaga teknis lainnya yang menghubungi untuk bergabung dalam pelatihan ini. Sehingga pelatihan ini dilaksanakan dengan peserta dari 34 provinsi di Indonesia.
Pelatihan Pengendalian Penyakit Mulut dan Kuku dilaksanakan selama 3 hari dari tanggal 12 sampai 14 Mei 2022 secara online oleh 3 UPT BPPSDMP yaitu BBPKH Cinagara, BBPP Batu dan BBPP Ketindan dengan narasumber berasal dari Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Pusat Karantina Hewan Dan Keamanan Hayati Hewani, Balai Besar Veteriner Wates, Pusat Veteriner Farma, Surabaya, Pusat Riset Veteriner Badan Riset Dan Inovasi Nasional, Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi D I Aceh dan Widyaiswara dari Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan Cinagara, Balai Besar Pelatihan Peternakan Batu.





