MARGOPOST.COM | Bogor – Ternak sapi merupakan ternak yang cukup popular di Indonesia , dan salah satu komoditas potensial dalam pengembangan usaha dalam pengembanagan usaha peterenakan. Hal ini terlihat dari pertumnuhan populasi pada tahun 2017 sebesar 2.7 % dan tahun 2018 sebesar 3.8 % dengan populasi total di Indonesia sebanyak 17 juta ekor di tahun 2018.
Beternak sapi memang menarik dan siapapun bisa menekuni bisnis tersebut, beternak sapi telah mendapat dukungan dari pemerintah untuk menekan angka import daging. Pemerintah terus berupaya keras mewujudkan ketahanan pangan untuk komoditas daging sapi melalui Program UPSUS SIWAB.
“Program tersebut ditujukan untuk optimalisasi reproduksi ternak sapi sehingga bisa mempercepat peningkatan populasi. Salah satu kendala yangdapat mempengaruhi percepatan pengembangan peternakan sapi adalah penykit. Penyakait tidak hanya menyebabkan kerugian ekonomi, namun dapat juga menimbulkan kematian. Salah satu penyakit yang banyak menyerang ternak adalah penyakit cacingan.” ujar drh. E Nia Setiawati, MP., Widyaiswara BBPKH, Selasa (19/02/2019).

Pada Sistem pemeliharaan yang masih bersifat tradisional yakni dengan membiarkan ternaknya mencari pakan sendiri akan memudahkan ternak terinfestasi cacing dibandingkan sapi yang dipelihara secara modern? intensif. Jenis –jenis cacing yang sering menginfeksi secara berurutan yaitu cacing gilig, cacing dauan dan cacing pita. Untuk mengetahui ternak terkena cacingan atau tidak, dapat dilakukan beberapa pengamatan seperti berikut:
Gejala Klinis; Cacingan pada awal serangan memang jarang menunjukkan gejala atau perubahan pada ternak. Perubahan hanya bias dilihat pada kasus yang sudah parah
Uji Laboratorium; Dapat dilakukan pada kasus ringan maupun parah dengan melihat keberadaan telur / larva cacing secara kualitatif dan kuantitatif.
Temuan pada organ dalam; Hanya dapat dilihat pada ternak yang sudah mati atai dipotong yakni denga menemukan cacing dewasa pada organ.
Penanganan dan Pencegahan; Pengendalian dan penanganan kasus cacingan dengan cara sederhana yaitu memutus siklus hidup parasite cacing terbut .
Beberapa hal yang harus diperhatikan terkait upaya pengendalain dan penanganan kasusu cacingan diantaranya: Pemberian pakan berkualitas dengan kandungan nutrisi dan umlah yang cukup, Memperhatikan sanitasi kandang dan kebersihan lingkungan dengan baik, tidak membiarkan kotoran sapi menumpuk, dan membersihkan tempat pakan secara rutin, Ternak sapi tidak digembalakan terlalu pagi, karena pada waktu tersebut telur cacing berada pada permukaan rumput yang masih basah guna memutus sikus sebaiknya sitem pengembalaan dilakukan secara bergilir, melakukan pemeriksaan keehatan hewan dan pemberian obat cacing secara teratur pemberian obat cacibg sebaiknya dilakukan sejak masih muda, (umur 7 hari) dan diulang secara berkala setiap 2-3 bulan sekali guna membasmi cacing secara tuntas dan meamuetus siklus cacing tersebut.
“Semoga dengan memahami bagaiman mengetahui ternak cacingan dan pengendaliannya, ternak sapi yang dipelihara akan terjaga kesehatannya, sehingga pertumbuhan sapi meanjadi optimal yang pada akhirnya memperoleh keuntungan optimal sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petrnak,” tutup Nia.





