MARGOPOST.COM | JAKARTA — Dalam upaya meningkatkan kompetensi dan profesionalisme pengawas Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) di tingkat daerah, Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan Cinagara bekerjasama dengan Sekretariat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengawas Kesmavet Senin, (10/11/2025).
Bimtek yang dilaksanakan di Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan ini bertujuan memperkuat peran pengawas Kesmavet dalam menjamin produk hewan yang ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal) bagi masyarakat.
Dengan jumlah peserta sebanyak 65 orang yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia ini diharapkan mampu mendongkrak jumlah pengawas kesmavet yang saat ini hanya berkisar 422 orang yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia di bidang Kesmavet sebagai bagian dari ketahanan pangan nasional.
“Pengawasan produk hewan bukan hanya soal kualitas pangan, tetapi juga tentang keselamatan dan kesehatan masyarakat. Pengawas Kesmavet adalah garda terdepan yang memastikan masyarakat Indonesia mendapat pangan asal hewan yang aman dan halal. Pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat kompetensi mereka,” tegas Mentan Amran.
Senada dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menambahkan bahwa peningkatan kompetensi aparatur menjadi kunci dalam menjaga standar pelayanan publik di sektor pertanian, termasuk bidang kesehatan hewan.
“Bimtek seperti ini merupakan investasi jangka panjang bagi SDM pertanian. Dengan kompetensi yang meningkat, pengawas Kesmavet akan semakin profesional dan adaptif terhadap tantangan keamanan pangan global. Kami ingin membangun SDM yang cerdas, tangguh, dan berintegritas,” ujar Santi.
Bimtek ini dibuka secara resmi oleh Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, I Ketut Wirata, yang menegaskan pentingnya penilaian kompetensi dan kinerja lapangan bagi para pengawas.
“Bimtek ini diharapkan memperkuat fungsi pengawasan di lapangan. Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam keterjangkauan dan keberlanjutan pangan, terutama di tengah perubahan global. Pengawasan yang kuat akan menjamin keamanan pangan yang aman, layak, dan bergizi bagi masyarakat,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti bahwa pelaporan kasus keamanan pangan saat ini baru sekitar 1% dari kejadian sesungguhnya, sehingga kegiatan ini diharapkan menjadi pemicu peningkatan sistem pelaporan dan respons keamanan pangan nasional.
Kepala Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara, Inneke Kusumawaty, juga menyoroti sistem penilaian dan standar kompetensi pengawas Kesmavet.
“Pengawas Kesmavet memiliki tanggung jawab besar dalam menjamin pangan asal hewan yang ASUH from farm to table. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi berbasis SKKNI dan KKNI sangat penting agar mereka siap menghadapi tantangan di lapangan,” jelas Inneke.
“Dengan kompetensi yang terus ditingkatkan, para pengawas Kesmavet akan menjadi ujung tombak dalam memastikan pangan asal hewan yang aman, sehat, utuh, dan halal bagi seluruh rakyat Indonesia,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan terbentuk pengawas Kesmavet yang kompeten, profesional, dan berdaya saing, sehingga mampu mendukung terwujudnya produk hewan yang ASUH dan berdaya saing tinggi serta meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pangan asal hewan dalam negeri.







