MARGOPOST.COM | Bogor – Lahan terlantar milik pemerintah atau yang biasa disebut dengan lahan tidur dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dalam mendukung pemberdayaan petani maupun usaha lain dalam mendukung pembangunan pertanian. Kondisi lahan tersebut biasanya ditumbuhi tanaman non-produktif yang kurang bermanfaat seperti semak belukar dan lain-lain.
Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, MP. dalam berbagai kesempatan memberikan motivasi dan arahan “160 UPT jangan biarkan ada lahan tidur. Negara kita ini subur masih banyak lahan yang belum dioptimalkan saatnya kita bangunkan, jangan biarkan lahan tidur,” ujar Mentan.
Sejalan dengan Mentan, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr. mengutarakan masyarakat bisa menerapkan teknologi family farming dan bisa bercocok tanam di rumah. Teknik lain yang bisa dilakukan adalah melakukan vertical farming seperti tanaman hidroponik dan urban farming dengan memanfaatkan gang-gang bahkan atap gedung.
Kuncinya ketersediaan air dan cahaya yang memadai. Dengan rajin tanam, selain memenuhi kebutuhan pangan juga meningkatkan imunitas.
“Untuk memperkuat ketahanan pangan, pemanfaatan ‘lahan tidur’, biasanya lahan berbukit atau lereng dapat dioptimalkan dengan melakukan intercroping/tumpang sari, atau dapat juga melakukan intergrated farming antara ternak (domba, sapi, kambing dan lainnya) dengan tanaman, tergantung kebiasaan petani,” ujar Dedi.


Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara Bogor dibawah kepemimpinan Dr. Wasis Sarjono, S.Pt., M.Si. melaksanakan arahan untuk pemanfaatan lahan tidur sehingga menjadi lahan yang produktif. Saat terjun langsung ke lapangan Kepala BBPKH Cinagara berharap selain target capaian peningkatan PNBP, juga sebagai bentuk dukungan program Kementerian Pertanian. Selain itu diharapkan pula melalui pemberdayaan masyarakat sekitar maupun SDM BBPKH Cinagara sebagai penggarap lahan akan menjadi motivasi bagi lainnya untuk ikut berwirausaha. Sehingga kedepan di BBPKH Cinagara akan selalu tersedia Bank Pakan untuk dimanfaatkan secara langsung dengan memanen Hijauan Pakan Ternak (HPT) maupun diolah menjadi silase atau pakan permentasi lainnya.
Hijauan pakan ternak merupakan komponen penting dalam usaha peternakan hewan ruminansia seperti Ternak Kambing, Domba, Sapi dan Kerbau dimana biaya pakan merupakan komponen biaya yang sangat besar bisa mencapai 70% dari total biaya produksi dan ketersediaannya dapat mempengaruhi kesehatan dan produktivitas hewan ternak. Oleh karena itu BBPKH Cinagara terus menggenjot optimalisasi lahan tidak kurang dari 3 hektar untuk dijadikan lahan yang produktif.
Konsep kerjasama dengan stakeholder melalui mekanisme PNBP maupun kerjasama dengan penggarap lahan terus dilakukan. Saat ini telah memasuki masa tanam dan periode 40 hari masa tanam, akan dilakukan panen pertama. Selanjutnya produksi Hijauan Pakan Ternak tersebut akan didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan para stakeholder yang telah menjalin kerjasama. Sehingga peningkatan perolehan PNBP akan terealisasi serta dapat meningkatkan pendapatan penggarap lahan dalam konteks pemberdayaan masyarakat sekitar. Dengan demikian lahan yang semula tidur menjadi lahan yang subur dan produktif. [HUMAS BBPKH-15/11/2023].












