MARGOPOST.COM | Bogor – Dalam mendukung amanat arahan Menteri Pertanian RI Bapak Prof. Dr. H. Syahrul Yasin Limpo, SH., M.Si., M.H. hendaknya insan pertanian selalu terus berupaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia pertanian secara massif, memberikan solusi dari permasalahan yang dihadapi. Kondisi saat ini pertanian konvensioanal hendaknya mulai beralih ke penerapan pertanian regeneratif berbasis ekonomi sirkular. Pertanian tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam pembangunan rendah karbon sebagaimana tertuang dalam RPJMN 2020- 2024. Pembangunan rendah karbon menjadi program Prioritas Nasional ke-6 (enam) yaitu “Membangun lingkungan hidup, meningkatkan ketahanan bencana, dan perubahan iklim”. Transformasi menuju Ekonomi Sirkular menjadi penting bagi Indonesia karena akan membawa banyak dampak positif, baik bagi lingkungan serta pertumbuhan berbagai sektor pembangunan di masa depan. Pertanian, sebagaimana dijabarkan dalam Undang-Undang, adalah kegiatan mengelola sumber daya alam hayati dengan bantuan teknologi, modal, tenaga kerja, dan manajemen untuk menghasilkan komoditas pertanian.
Pembangunan Pertanian adalah bagian utama pembangunan nasional dan oleh karena itu, memiliki kontribusi besar dalam transformasi pembangunan nasional berbasis Ekonomi Sirkular, pertanian yang mencakup tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan/atau peternakan dan perikanan dalam suatu agroekosistem. Untuk mewujudkan pertanian regeneratif berbasis ekonomi sikular, Prof. Dr. Ir. Dedy Nursyamsi, M.Agr selaku Kepala BPPSDMP menindak lanjuti MoU yang telah ditanda tangani antara YayasanInisatif Indonesia Biru Lestari (WAIBI) dengan BPPSDMP dalam bentuk penyusunan bahan ajar sebagai substansi pertanian regeneratif berbasis ekonomi sirkular. Kegiatan ini melibatkan peran Widyaiswara BBPKH, BBPP Lembang, PPMKP, Dosen Polbangtan Bogor dan Polbangtan Yongma serta Penyuluh Pertanian. Kegiatan dilaksanakan pada 13 – 15 Mei 2022 di hotel Arch Bogor dan dibuka secara resmi Sekretaris BPPSDMP Dr. Ir. Munifah, M.Si, juga di hadiri oleh Kepala Pusat Pendidikan, Kepala Pusat Pelatihan, juga Direktur WAIBI, Ibu Lusi Ismail beserta jajarannya.
Arahan Sekretaris Badan bahwa bahan ajar yang disusun menunjukan kualitas dan harus selalu memperhatikan dalam proses pengembangannya meliputi isi, cakupan, keterbacaan, bahasa yang mudah di mengerti, memberikan ilustrasi yang disesuaikan dengan kondisi nyata di lapangan. Selanjutnya beliau berujar, sudah saatnya pertanian regeneratif atau pertanian berkelanjutan yang berbasis ekonomi sirkular dipahami dan diterapkan oleh seluruh insan pertanian. (EL Cngr)






