MARGOPOST.COM | Bogor – Menteri Pertanian (Mentan) Prof. Dr. Syahrul Yasin Limpo, SH. M.Si., M.H. mengatakan, sumber daya manusia (SDM) pertanian harus terus memperbarui pengetahuan.
“Pengetahuan terus berkembang, termasuk di sektor pertanian (peternakan). Oleh sebab itu, penting sekali setiap SDM untuk meningkatkan kapasitas dan pengetahuannya. Dalam masa wabah PMK saat ini sangat penting petugas kesehatan hewan; paramedik, petugas teknis, dan penyuluh peternakan se-provinsi Indonesia, meningkatkan kapasitas dan pengetahuannya mengenai pengendalian dan penanggulangan PMK di lapangan,” katanya.
Pada Pelatihan Vaksinasi PMK yang diselenggarakan oleh Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara, Jumat, 27 Mei 2022 Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPDSMP), Dedi Nursyamsi, menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas sumber daya manusia meliputi petugas kesehatan hewan, dokter hewan, paramedik, dan penyuluh peternakan merupakan kunci penting dalam pengendalian dan penaggulangan PMK saat ini.
“Semua harus bekerjasama secara optimal baik material, waktu dan energinya dalam upaya penanganan wabah PMK. Wabah PMK ini bisa diatasi dengan kerjasama yang solid dan upaya penangan maksimal. Direktoran Jenderal Peternakan melalui Direktur Kesehatan Hewan (Dr drh Nuryani Zainuddin MSi) telah melakukan Langkah-langkah penanganan PMK yaitu pendistribusian obat, penyuntikan vitamin, pemberian antibiotik, dan penguatan imun”, lanjutnya.
Kepala Badan PPSDMP menyampaikan juga terkait kebijakan strategi nasional pengendalian dan penanggulangan PMK yang dikeluarkan oleh Dirjen Peternakan.
“Kebijakan strategi nasional pengendalian dan penanggulangan PMK yang dikeluarkan oleh Dirjen Peternakan meliputi penutupan jalur pengeluaran ternak, penutupan pasar ternak, pemusnahan terbatas (Focal culling/stamping out), pengawasan/pembatasan lalu lintas, vaksinasi dan pengobatan supportif, biosecurity & dekontaminasi, penelusuran dan surveilans, pomunikasi, informasi dan edukasi masyarkat, perlakukan bagi produk hewan dan produk sampingannya serta perlakukan bagi produk hewan dan produk sampingannya”
Dalam kesempatan yang sama Dedi Nursyamsi juga memaparkan beberapa agenda dalam penanganan wabah PMK di Indonesia dari Dirjen Peternakan, sesuai dengan Menteri Pertanian, upaya yang dilakukan dengan mencanangkan tiga agenda meliputi:
- Pengendalian SOS
- Penetapan wabah oleh menteri pertanian (senin, 9 mei 2022) sbg kewajiban kita jg melakukan notifikasi ke OIE
- Pemusnahan terbatas ternak yang terkonfirmwsi positif PMK
- Penetapan penutupan (lockdown) zona wabah pada tingkat kecamaatan/kabupaten di setiap wilayah dengan radius 3-10 km dari wilayah terdampak PMK
- Penutupan pengeluaran ternak dari Pulau Jawa dan pembatasan pemasukan ternak ke Pulau Jawa
- Pembentukan gugus tugas tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota
- Sosialisasi dan edukasi masyarakat terkait SOP Pencegahan dan pengendalian PMK
- Menyiapkan vaksin PMK secara darurat, obat-obatan, disinfektan, APD
- Memberikan multivitamin untuk penguat dan antibiotik untuk mencegah infeksi bakteri
- Melakukan pembatasan, pengetatan, sampai penutupan lalu lintas ternak, pasar hewan dan rumah potong hewan, serta masuknya ternak hidup di wilayah perbatasan negara belum bebas PMK
- Penghentian sementara pelayanan inseminasi buatan dan pemeriksaan kebuntingan di daerah wabah PMK
- Pengendalian Temporary
- Pengadaan vaksin
- Vaksinasi darurat
- Pembatasan lalu lintas hewan dan produk hewan
- Pengendalian Permanent
- Pembuatan vaksin oleh Pusvetma
- Vaksinasi massal
- Surveilans secara rutin
“Kita optimis Wabah PMK ini dapat kita atasi. Mari Bersama-sama dan bersungguh-sungguh untuk memberikan kerja keras kita dalam upaya penanggulangan dan pengendalian PMK ini” tutup Dedi Nursyamsi.






