KEMENTAN GELAR KEMBALI PELATIHAN VAKSINASI PMK UNTUK MENGURANGI WABAH PMK DI SELURUH INDONESIA

MARGOPOST.COM | Bogor – Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan peningkatan SDM menjadi fokus utama Kementan. Saat ini tantangan cuaca merupakan tantangan baru yang harus dihadapi, ada tiga agenda untuk menghadapi tantangan tersebut. Diantaranya perbaiki agenda intelektual atau mindset bagaimana menghadapi tantangan adaptasi situasi yang ada. Selanjutnya agenda manajemen terhadap tantangan yang ada dan mengubah perilaku budidaya pertanian dengan sistem teknologi digital. Menurut Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi, pelatihan harus mampu mengubah perilaku dalam jangka panjang. “Petugas Lapangan sebagai agen harus mengubah perilaku peternak untuk dapat mengimplementasikan ilmu dan teknologi untuk memberantas wabah yang terjadi melalui vaksinasi. BPPSDMP Kementan terus berupaya untuk meningkatkan kapasitas SDM pertanian melalui peningkatan kompetensi teknis, manajerial dan sosiokultural”, ungkap Kabadan.

BPPSDMP melalui BBPKH Cinagara salah satu Unit Pelaksana Teknis Pusat Pelatihan Pertanian menggelar pelatihan online Vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Pelatihan ini dilaksanakan hari Jum’at 27 Mei 2022 jam 09.00 WIB melalui zoom. Pelatihan digelar sebab meningkatnya kasus penyakit mulut dan kuku di beberapa daerah di Indonesia dan akan diatasi dengan pemberian vaksinasi dalam waktu beberapa bulan lagi dimana sedang proses pembuatan oleh Pusat Veteriner Farma (Pusvetma) Surabaya. Sebagai informasi penyakit mulut dan kuku (PMK) atau foot and mouth disease (FMD) merupakan penyakit hewan yang menyerang spesies hewan menyusui (mamalia), paling menular dan memiliki potensi besar untuk menyebabkan kerugian ekonomi yang parah pada peternakan hewan ternak berkuku belah yang sedang dalam kondisi rentan.

Ada tujuh serotipe virus FMD (foot and mouth disease virus, FMDV), yaitu: O, A, C, SAT 1, SAT 2, SAT 3 dan Asia 1. Infeksi pada ternak oleh salah satu serotipe virus tersebut tidak akan memberikan kekebalan terhadap serotipe virus yang lain. PMK tidak dapat dibedakan secara klinis dari penyakit vesikular lainnya, seperti penyakit vesikular babi, stomatitis vesikular, dan eksantema vesikular. Oleh karena itu, diagnosis di laboratorium dari setiap kasus dugaan PMK merupakan suatu keharusan dan hal yang mendesak. Oleh karena itu pembuatan vaksin tidaklah mudah karena menyesuaikan serotipe yang wabah di Indonesia.

Diagnosis PMK adalah dengan isolasi virus PMK atau dengan demonstrasi antigen virus PMK atau asam nukleat dalam sampel berupa jaringan atau cairan. Deteksi antibodi virus spesifik juga dapat digunakan untuk diagnosis, dan antibodi terhadap protein nonstruktural virus (nonstructural proteins, NSP) dapat digunakan sebagai indikator infeksi, terlepas dari status vaksinasi ternak.

Deteksi agen virus: Demonstrasi antigen virus PMK atau asam nukleat cukup untuk sebuah diagnosis positif. Karena PMK bersifat sangat menular dan sangat berdampak pada kerugian ekonomi, diagnosis laboratorium dan identifikasi serotipe virus harus dilakukan di laboratorium dengan tingkat biokontainmen yang sesuai, ditentukan dengan analisis risiko sesuai dengan Refernsi Standard Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (Office International des Epizooties, OIE) pada Chapter 1.1.4 Biosafety and biosecurity: Standard for managing biological risk in the veterinary laboratory and animal facilities.

Metode Enzyme-Linked Immunosorbent Assays (ELISA) dapat digunakan untuk mendeteksi antigen virus PMK dan untuk identifikasi serotipe virus. Metode Lateral Flow Devices (LFD) juga sudah banyak tersedia dan juga dapat digunakan untuk mendeteksi antigen virus PMK. Metode ELISA telah menggantikan metode Complement Fixation (CF) di sebagian besar laboratorium karena lebih spesifik dan sensitif dan tidak dipengaruhi oleh faktor pro atau anti komplemen.

Jika sampel tidak memadai atau hasil diagnosis masih belum dapat pastikan, bahan sampel dapat diuji dengan metode Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) dan/atau isolasi virus menggunakan sel yang rentan untuk mengamplifikasi asam nukleat atau virus hidup yang mungkin ada. Media kultur sebaiknya dari tiroid primer sapi (pedet), tetapi sel ginjal babi, domba atau pedet, atau line sel dengan sensitivitas yang sebanding juga dapat digunakan. Setelah efek sitopatik (cytopathic effect, CPE) selesai dalam kultur, cairan yang dihasilkan dapat diuji untuk diagnosis FMDV menggunakan ELISA, CF atau RT-PCR.

Persyaratan untuk vaksin PMK: Vaksin virus PMK yang tidak aktif dengan berbagai komposisi telah tersedia secara komersial. Biasanya, virus PMK digunakan untuk menginfeksi suspensi atau kultur sel monolayer dan sediaan yang dihasilkan diklarifikasi, dinon-aktifkan dengan etilenimin dan dipekatkan. Antigen biasanya dicampur dengan minyak atau ajuvan berair untuk formulasi vaksin. Banyak vaksin PMK bersifat multivalen untuk memberikan perlindungan terhadap berbagai serotipe virus yang berbeda, atau untuk mengakomodasi keragaman antigen yang mungkin ditemui dalam situasi tertentu di lapangan.

Vaksin yang sudah jadi harus terbukti bebas dari residu virus hidup. Pembuktian tersebut paling efektif dilakukan dengan menggunakan in-vitro tests pada preparat virus tidak aktif yang dipekatkan sebelum formulasi vaksin dan bebas dari residu virus hidup selanjutnya dikonfirmasi selama in-vivo tests dan/atau in-vitro tests pada produk jadi.

Challenge tests juga dilakukan pada sapi yang divaksinasi untuk menetapkan nilai PD50 (50% dosis perlindungan) atau perlindungan terhadap infeksi kaki secara umum (protection against generalised, PGP), meskipun tes serologis dianggap cukup jika ada korelasi yang valid antara perlindungan dan respons antibodi spesifik telah terdeteksi. Fasilitas produksi vaksin PMK juga harus memiliki tingkat biokontainmen yang sesuai, ditentukan oleh analisis risiko sesuai dengan Referensi Standard Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (Office International des Epizooties, OIE) pada Chapter 1.1.4. Diagnostic and reference reagents are available from the OIE Reference Laboratories for FMD atau sesuai the FAO (Food and Agriculture Organization of the United Nations) World Reference Laboratory for FMD (The Pirbright Institute, UK).

Pelatihan Vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku yang baru saja dibuka oleh kepala BPPSDMP Kementan RI diikuti oleh seluruh dokter hewan, paramedic veteriner, penyuluh peternakan dan juga petugas lapangan se- Indonesia dengan jumlah peserta yang melakukan registrasi 4.410 dari 34 provinsi di Indonesia. NL-BBPKHCINAGARA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *