MARGOPOST.COM | GARUT – Peningkatan kompetensi SDM pertanian tidak dapat dicapai hanya dengan penguasaan teori saja, akan tetapi perlu didukung dengan penguasaan teknis dilapangan.
Sehingga dapat mencetak insan pertanian yang kompeten dan professional di bidangnya. Penguasaan teknis tersebut dapat dicapai salah satunya dengan dengan melakukan praktik langsung di lapangan. Sehingga menghasilkan mix and match yang mampu meningkatkan kompetensi.
Terkait hal tersebut Menteri pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan dalam pengembangan manusia Indonesia, Kementan memprioritaskan program-program pada pengembangan SDM baik secara teoritis paupun praktis (praktik di lapangan), sehingga mampu mendongkrak daya saing sumberdaya manusia (SDM) Pertanian yang kompeten dan professional.
Sejalan dengan Mentan, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengungkapkan, selain secara teoritis, praktik lapangan juga merupakan salah satu komponen penting dalam proses pendidikan dan pelatihan SDM pertanian.
“Melalui praktik lapang, peserta pelatihan dapat mengaplikasikan teori yang telah mereka pelajari di kelas secara langsung dilapangan, sehingga mendapatkan pengalaman yang real di dunia kerja” ujar Dedi.
Dedi juga mengungkapkan pihaknya (BPPSDMP) memiliki peran penting dalam mendukung penyelenggaraan praktik lapangan yang berkualitas.
“BPPSDMP berkomitment untuk meningkatkan kualitas praktik lapangan dengan menyediakan inspratuktur yang memadai dan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak seperti pemerintah daerah, petani, maupun pengusaha” jelas Dedi.
Dalam upaya mendukung program BPPSDMP untuk mencetak SDM pertanian yang unggul dan menyelenggarakan pelatihan yang berkualitas, BBPKH Cinagara melakukan kerjasama dengan pemerintah Kabupaten Garut dalam penyediaan sarana penunjang berupa lokasi praktik lapangan pada pelatihan gangguan reproduksi ternak.
Seluruh peserta pelatihan gangguan reproduksi ternak dari BBPKH Cinagara dijadwalkan melaksanakan praktik lapangan dengan metode studi kasus di Kabupaten Garut selama 6 hari dimulai Senin (13/05/2024) hingga Minggu (18/05/2024).
Mewakili Kepala Balai, Kapoksi Penyelenggaraan Pelatihan, Wilmy Rahmah Wirondas menuturkan pemilihan Kabupaten Garut sebagai lokasi praktik studi kasus pelatihan gangguan reproduksi, dikarenakan banyaknya populasi ternak dan masih tingginya kasus ganguan reproduksi di lapangan. Sehingga memungkinkan setiap peserta dapat mencari dan mengidentifikasi berbagai macam kendala terkait sistem reproduksi ternak secara langsung di lapangan.
“Dengan tingkat populasi ternak yang banyak dan angka kejadian gangguan reproduksi yang tinggi peserta pelatihan dapat leluasa mempelajari dan menangani kasus-kasus dilapangan yang sangat beragam secara langsung, sehingga diharapkan nantinya akan mampu menambah keterampilan real di dunia kerja” jelas Wilmy
Pelaksanaan praktik lapangan di kabupaten Garut tidak lepas dari pengawasan dan pendampingan dokter hewan senior, ini bertujuan agar peserta dapat berkonsultasi dan berdiskusi apabila terdapat kasus yang memerlukan tindakan atau penanganan yang khusus. Dengan demikian peserta pelatihan akan benar-benar terampil secara teknis di lapangan.
drh. Wisnu Jaka Dewa, dokter hewan BBPKH Cinagara yang mendampingi peserta pelatihan menuturkan seluruh peserta pelatihan dituntut untuk dapat mengamati dan mengidentifikasi kasus-kasus gangguan sistem reproduksi ternak secara langsung dilapangan, hingga mampu menemukan permasalahan-permaslahan apa saja yang sering terjadi dan mampu menerapkan metode penanganan yang cepat, tepat, dan akurat.








