KOLABORASI KEMENTAN DENGAN MFM AGROVET MALAYSIA MELALUI PELATIHAN TRANSFER EMBRIO BAGI MEDIK DAN PARAMEDIK VETERINER

MARGOPOST.COM | Bogor – Transfer Embrio (TE) merupakan generasi kedua bioteknologi reproduksi setelah inseminasi buatan (IB) yang paling sering diterapkan pada ternak sapi. TE memiliki kelebihan dibandingkan IB. Hanya diperlukan waktu satu generasi (9 bulan) untuk menghasilkan bibit murni (pure breed) lewat TE. Transfer embrio merupakan pengembangan  bioteknologi  di bidang peternakan dengan tujuan untuk meningkatkan potensi Genetik dan reproduksi ternak. Sampai saat ini teknologi transfer embrio terus dikembangkan untuk menjawab tantangan dalam  penyediaan bibit sapi unggul nasional.

Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, MP.
mengungkapkan keyakinannya jika produksi embrio kebutuhan sapi tercukupi, Indonesia tidak tergantung pada impor.

“Upaya ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan produksi daging sapi di Indonesia melalui peningkatan mutu genetik ternak,” ujar Mentan.
Lebih lanjut Mentan mengatakan “Hasil kerja sama riset dan pengembangan ini telah mampu mengasilkan sapi lokal dengan bobot menyamai sapi Brahman, dengan berat sampai 800 kg,” imbuh Mentan.

Kementerian Pertanian Republik Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Diraja Malaysia menyelenggarakan Pelatihan Transfer Embrio yang difasilitasi oleh Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang dan Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara Bogor.

Hadir secara daring pada acara pembukaan pelatihan yaitu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr. Sedangkan hadir secara luring dihadiri oleh Sekretaris BPPSDMP Dr. Ir. Siti Munifah., M.Si. Kepala Biro Kerjasama Luar Negeri, Kepala BBPKH Cinagara beserta jajaran, Kepala BET Cipelang, Direktur Polbangtan Bogor serta perwakilan utusan MFM Agrovet Malaysia.

Laporan penyelenggaraan pelatihan disampaikan oleh Kepala BBPKH Cinagara Dr. Wasis Sarjono, S.Pt., M.Si. Dijelaskan bahwa Pelatihan Transfer Embrio bertujuan untuk memberikan pemahaman komprehensif tentang teknologi reproduksi veteriner dan meningkatkan keterampilan di bidang transfer embrio. Peserta berjumlah 20 orang yang berasal dari MFM Agrovet Malaysia. Durasi pelatihan selama 14 hari, dimulai tanggal 23 November s.d. 06 Desember 2023. Kegiatan pelatihan akan dilaksanakan di Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara dan praktek lapangan di PT. Pasir Tengah Farm, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

Narasumber pada Pelatihan Transfer Embrio berasal dari BBPKH Cinagara, Direktorat Kesehatan Hewan, Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang dan Institut Pertanian Bogor.

Pada kesempatan yang sama Sekretaris BPPSDMP memberikan sambutan dan mengungkapkan bahwa kegiatan kerjasama antara Kementan dengan MFM Agrovet malaysia merupakan bukti pentingnya pembelajaran dan kolaborasi berkelanjutan di bidang teknologi reproduksi berbantuan. Sifat khusus dari transfer embrio tidak hanya memerlukan pengetahuan teoritis tetapi juga keahlian langsung, yang ingin kami berikan dan tingkatkan selama program pelatihan ini.

Kementerian Pertanian senantiasa mendukung dan memberikan kesempatan dalam berbagai kegiatan kerjasama. Tukar menukar informasi merupakan hal yang patut dilakukan pada Pelatihan Transfer Embrio. Oleh karena itu pertukaran pengetahuan dan keterampilan sangat baik dilaksanakan. Harapan kedepan, tidak hanya pada Pelatihan TE saja namun bisa bekerjasama juga pada Pelatihan Inseminasi Buatan maupun Juru Sembelih Halal. Yang paling penting juga adalah untuk mengukur keberhasilan kegiatan ini, ada evaluasi hasil penerapan di lapangan, apabila ada yang belum berhasil, maka kemudian dianalisa penyebab ketidakberhasilan serta ditinjau kembali terkait SOP dan lain-lainnya.

Kegiatan Pelatihan Transfer Embrio dibuka secara resmi oleh Kepala BPPSDMP. Dalam sambutan dan arahannya, Kepala BPPSDM Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr. menjelaskan “Pemenuhan kebutuhan pangan itu adalah mutlak, tetap berdiri kokohnya suatu bangsa karena pangan, itu masalah hidup dan matinya suatu bangsa” ujar Dedi mengingatkan kembali pidato Presiden Pertama RI Ir. Soekarno.

Lebih lanjut Dedi Nursyamsi menambahkan “Hanya bangsa yang mampu mengatasi pangan yang negaranya akan hidup. Caranya adalah melalui upaya-upaya yang revolusioner dan sungguh-sungguh serta berkelanjutan, dengan demikian akan mendukung tercapainya swasembada pangan,” imbuh Dedi.

Selain itu Kepala BPPSDMP menyampaikan pentingnya pengembangan teknologi di sektor peternakan. Salah satu teknologi peternakan yang sudah lama berkembang diantaranya adalah Inseminasi Buatan. Namun saat ini Transfer Embrio merupakan teknologi yang terbukti mendukung peningkatan produksi ternak. Karena swasembada daging sapi akan segera terwujud apabila bibit sudah baik, nutrisi dan pakan berkualitas, pengendalian kesehatan hewan juga menjadi kunci keberhasilan peningkatan produktivitas ternak.

“Oleh karena itu agribisnis peternakan harus diperkuat sehingga usahanya tidak hanya bergerak di hulu tapi juga dapat berproduksi di hilir. Perlu diingat peternak harus menguasai pasar, bukan pasar menguasi peternak. Karena apabila peternak  sudah mampu menguasai pasar maka usahanya tidak akan merugi,” tutup Dedi seraya membaca basmalah dan membuka Pelatihan Transfer Embrio secara resmi.  [Humas BBPKH – 23/11/2023].

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *